Aku termangu menatap keindahan yang terpampang persis di depan mataku.“Jangan diam saja. Bokep Mama Berlutut di depanku!” Aku membisu. Apalagi diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Setelah menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan empuk itu, Mbak Lia tersenyum. Jangan ada setetes pun yang tersisa! Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.“Saya suka kaki Mbak. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Sayu. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya.




















