Wanita itu. “Jangan ! Bokep Tobrut Wajahku memanas lagi. Lalu kudengar langkahnya mendekat. Alunan instrumen membuatku terlena beberapa saat kemudian.“Kamu terangsang,” ia berbisik tiba-tiba. Ia tertawa. Sedikit kekecewaan timbul di hatiku. Ia sudah melepas cardigan birunya. Kupikir akulah si keledai dungu itu, yang mengaku sudah pernah bercinta, ternyata seperti anak kecil di atas tempat tidur. Setelah itu ia berpaling menatap ke luar jendela samping. Kulihat ia memandangku, masih dengan senyuman di bibirnya. Saat ia melepaskan bibirnya dari bibirku, kutatap wajahnya dengan perasaan tak karuan. “Jangan,” kataku. Kami saling terpaku beberapa saat, sebelum akhirnya ia berkata, lebih mirip desis gusar,
“Kamu hanya mau diam begitu?”
“Sial,” makiku. Asal jangan tiga kali menginjak kakiku.”
“Mungkin lebih.”
“Ayolah. “Shall we dance?” katanya, membuat tawaku berhenti. Kikuk, kuraih tangan kanannya dengan jemariku.




















