Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Ia terus mengelap pahaku. Bokep Jepang Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sudahlah. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kuusap sisa cream. Ah segar. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Bayar arisan. Junior berdenyut-denyut. “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Tapi tidak apa-apa toh




















